I Left My Heart In Yogyakarta

Yogyakarta. Tempat yang tidak pernah kehilangan pesonanya. Ya memang tidak bisa dipungkiri, budaya dan modernisasi di kota ini seakan berkembang beriringan. Wisata budaya dan peninggalan prasejarah seperti candi yang masih terjaga apik, berdampingan dengan wisata belanja murah dan berbagai tempat makan enak yang ramah di kantong membuat Yogyakarta masih menjadi salah satu kota wisata yang paling banyak dikunjungi ketika liburan tiba. Dan beberapa waktu yang lalu, saya meninggalkan separuh hati saya di kota ini.
Hari itu adalah
hari terakhir cuti saya. Setelah 4 hari full di Solo, dan kebetulan Solo dan
Yogya lokasinya berdekatan (sekitar 2 jam perjalanan menggunakan mobil) jadilah
saya akan jalan-jalan ke Yogya. Not having too many expectation at first,
karena inginnya saya hanya membeli bakpia, kemudian jalan-jalan cari batik ke
Jalan Malioboro. Sisanya terserah angin membawa saya kemana. Tapi ternyata,
satu hari di Jogja meninggalkan banyak cerita.
Saya ditemani oleh
saudara yang merangkap jadi tour guide saya pada hari itu. Kita berangkat dari
Solo sekitar pukul 7.30 pagi dan sampai di Jogja pukul 9.30. Pemberhentian
pertama adalah sarapan di House of Raminten. Menunya variatif, saya coba Ayam
Koteka dan Nasi Liwet. Dua-duanya enak dan satu hal yang cukup membekas di
ingatan saya adalah bau dupa yang menyengat hidung dari pintu masuk hahaha!!
Selepas sarapan,
kami melanjut kegiatan dengan berbelanja ke daerah Jalan Malioboro. Nggak
banyak sih yang saya kunjungi, hanya mampir sebentar ke Hamzah Batik (as known
as Mirota Batik). Ruameee tenan yo, tapi gapapa saya berhasil dapat daster
lucu, tote bag, serta souvernir lucu untuk oleh-oleh dengan harga yang
terjangkau.
Setelah itu, kami lanjut perjalanan untuk makan siang. Meskipun terhitung jaraknya sebentar dari sarapan sebelumnya, mungkin karena berbelanja membakar banyak kalori kami jadi cepat lapar hahaha. Kami menyusuri jalan yang lumayan agak jauh dari pusat kota Yogyakarta, namanya Kafe Bocor Alus. Kafe yang mengangkat tema 80-an ini menarik dan sangat instagramable. I’ll tell you the whole review in separate post.
Baca juga :
Tidak terasa,
matahari pun mulai lengser. Saya waktu itu tertidur di mobil jadi nggak tau
persis jalannya seperti apa. Bangun-bangun kami sudah sampai di puncak Yogyakarta.
Lupa nama daerahnya apa. Tapi hawanya sejuk dan segar. Ternyata pemberhentian
kami kali ini untuk catching sunset di Candi Ijo. Sayang sekali handphone saya
lowbatt saat itu, jadi nggak bisa ambil foto kece hiks.
Kami tidak
lama-lama di Candi Ijo, setelahnya kami turun sedikit dan mampir ke Tebing
Breksi. Yes, those beautiful cliff that famed with its instagrammable spot.
Sayangnya kami datang ketika matahari sudah tenggelam, jadi fotonya kurang
maksimal. Tetapi, terobati dengan pemandangannya yang ternyata sangat indah
ketika malam. Lampu-lampu kota yang terlihat dari atas serta langit malam
dengan semburat senja yang masih tertinggal benar-benar mencuri hati saya.
Kembali ke pusat
kota, kami makan malam salah satu kafe milik teman saudara. Namanya Oase Cafe,
letaknya di Jalan Taman Siswa. Saya coba mentok rica-rica (surpraisingly taste
very good), dan minum wedang (saya lupa namanya, seperti wedang uwuh dengan
tambahan jeruk nipis). Perjalanan kami hari itu ditutup dengan membeli bakpia
untuk oleh-oleh teman kantor.
Nggak sangka ya,
dalam sehari bisa explore sekian tempat di Yogyakarta. Dan semuanya berhasil
mencuri hati saya dengan pesonanya masing-masing. Hmmmmm capek banget tapi
seru... See you very soon Jogja!
0 komentar