featured Slider

Like us

Cerita Shinta #1 - Thankful

by - 24 March


Pada saat pengajian rutin minggu lalu, guru ngaji saya nasehat yang menurut saya bagus sekali. Inti dari nasehatnya sebenarnya simpel dan mungkin juga sudah sering kamu dengar. Tapi nasehat itu begitu mengena di  hati saya.

Awalnya beliau hanya mengambil kertas putih, kemudian di kertas putih itu beliau menambahkan sebuah titik hitam. Setelah itu beliau mengangkat kertas itu dan bertanya, "Kira-kira klo disuruh untuk menjelaskan ini apa, apa jawaban kalian?".


Kebanyakan dari kami menjawab, "Cuma titik hitam."

Guru saya lalu menjawab, "Mostly pada jawab ini gambar titik hitam ya, kenapa ga jawab "Ini kertas putih"? kan yang dominan kertas putih, titik hitamnya hanya bagian kecil saja. Itu berarti masih banyak dari kita yang hanya fokus pada hal negatif meskipun hal negatif itu hanya sedikit daripada fokus dengan hal lain yang positif walaupun hal positif itu lebih dominan."

Cara pandang kita ke kertas tadi itu bisa jadi mewakili kesyukuran kita terhadap Sang Pencipta. 

"Loh apa hubungannya?"

Kemudian beliau menjelaskan, "Kertas putih tadi diibaratkan sebagai nikmat yang telah diberikan Allah ke kita. Dan titik hitamnya diibaratkan sebagai cobaan yang Allah berikan di hidup kita. Banyak dari kita fokus hanya pada cobaan atau kesulitan yang diberikan Allah daripada sekian banyak nikmat yang diberikan ke kita. Padahal klo kita mau bandingkan, cobaan kita itu ga seberapa dibandingkan segala nikmat yang Allah kasih ke kita."

"Belajar mensyukuri nikmat yang Allah sudah berikan ke kita, jangan hanya berfokus sama kesulitan yang ada. Toh disetiap cobaan atau kesulitan yang 'mampir' di hidup kita itu semua ada maksud dan tujuannya. Karena Allah kan lebih tau apa yang terbaik buat kita. Asal kita bisa sabar, pada akhirnya Insyaallah kita bisa metik hikmahnya dan bisa jadi pribadi yang lebih baik:, tambah beliau lagi. (*sounds cliche but true)

Well,  saya ngerasa "ketampar" pas dengerin nasehat guru saya itu. Saya sih sudah sering dengar nasehat dengan tema yang sama, tapi mungkin karena materi nya lagi pas banget sama keadaan saya sekarang jadi terasa mengena sekali di hati saya. Belakangan ini saya stress banget deh, bawaanya pengen marah-marah. Saya sering berpikir "Kok hidup saya banyak ga enaknya sih? Kenapa sih saya ga bisa seperti temen-temen saya yang lain? Saya salah apa sih sampe rasanya kok begini banget ya?"

Tapi abis dengerin nasehat itu somehow bikin beban pikiran saya terasa lebih ringan. Klo saya ngerasa susah terus, kapan saya mau syukur nya. Padahal di luar sana banyak orang yang lebih susah daripada saya. Banyak yang ga seberuntung saya. Why should i feel miserable when there are many people out there wants to be in my 'shoes'?

Fokus sama kesulitan yang ada di hidup kita ga akan meringankan beban kesulitan itu. Bisa bisa malah rasa kesyukuran kita jadi terkikis. Klo kita ga syukur, Allah bisa dengan gampangnya loh mencabut kenikmatan kita. Klo kita bisa syukur, niscaya Allah akan menambah kenikmatan untuk kita as stated in Alquran surah Ibrahim

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga),  tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Saya nulis ini bukan karena saya lebih pintar, saya juga ga ada niatan untuk menggurui sama sekali. Cuman pengen share aja, karena yaaaa namanya juga manusia pasti ada kalanya susah dan lupa. Kadang kalo lagi dapet cobaan, kita butuh pengingat (in my case, saya yang diingatkan oleh nasehat guru ngaji saya). Jadi saya berharap tulisan saya ini bisa jadi pengingat bukan hanya buat saya, tapi juga buat kamu. Semoga bermanfaat ya.

Stay Thankful.

X.O.X.O

You May Also Like

0 komentar