Ini topik yang saya maju mundur buat nulisnya. Kind of hard to open this up, karena menurut saya ini topik yang lumayan sulit untuk dibahas karena pasti masing-masing orang punya pandangannya sendiri tentang menikah.
But anyway, let me tell you my thought about marriage.
Dulu waktu saya muda, saya punya target married di umur 24 atau 25. As my mom said yaa cewek umur segitu dinilai sudah cukup "matang" untuk starting marriage life. Dengan siapa nya tentunya ga ada bayangan. Tapi ideal type saya saat itu masih terlalu looks oriented yah, sisanya seiman, lebih tua 3-5 tahun dari saya, dan enak diajak ngobrol. Udah itu aja, simpel banget kan.
Seiring berjalannya waktu, saya jadi punya pandangan lain tentang marriage life. Saya banyak melihat dan belajar dari cerita dan pengalaman orang. Observe and solve puzzles in my head about this "how exactly marriage life i want it to be? Apa yang saya mau bangun nanti?"
Di umur saya yang sekarang (24-my marriage age target was) ideal type saya bukan lagi hanya sebatas appearance atau looks semata. Dan pandangan saya tentang marriage life pun juga berubah. Nggak ada lagi pikiran tentang umur kemudaan atau ketuaan untuk menikah karena yaaa.. balik lagi semuanya ke individunya sudah siap kah? And age just a number, the more number you have doesn't mean the more mature you are. Tergantung kesiapan, kedewasaan, dan cara pandang si orang tersebut terhadap hidup yang mau dia jalanin.
Because guys.. starting marriage life maybe is the biggest commitment you'll ever decide and choose. You'd better be well prepared especially in mental aspects, bukan hanya di materi saja (yaa meskipun dalam hal materi juga perlu banyak yang disiapkan siiih).
Ketika sekarang udah umur 24, dan dihadapkan sama pertanyaan-pertanyaan
"kapan nikah?"
"udah umurnya kok, jadi kapan?"
"nunggu apa lagi? kan udah kerja, udah cocok kalo jadi mamah muda maah"
and i just like... hmmmmm..
did you ever think that marrying someone means also marry with the whole family? Harus terima partner hidup kita sepaket seada adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Will-alias sudi-alias mau untuk hidup bersama (in my case as a woman, saya harus taat sama suami), komitmen, dan menghadapi segalanya bareng-bareng. Bersedia menekan ego masing-masing dan mendahulukan kepentingan bersama.
Dan harus sadar penuh kalau yang mau dibangun ini Rumah Tangga, bukan Rumah Makan Sederhana yang kalo nggak enak you can just quit easily.
Sure, menikah juga menyempurnakan iman (thats a good cause), menjaga agama, dan menghindarkan dari zina atau melanggar.
Tapi dalam perjalanannya menikah itu bukan cuman tinggal dan tidur bareng aja. It also about respect each other, compromise, commitment, dan menghadapi semua masalah secara dewasa. Nggak lagi pantas untuk ngadu sama orang tua, atau sama yang lain karena yang harus nyelesein semua masalah itu ya 2 individu yang terikat disitu.
Marriage is such a great moment of our life, but it also comes with a great responsibility. Dan dengan segala baik buruknya harus dipikirkan secara proposional. Nggak melulu yang diinget cuman "how happy when my wife taking care of me" or "how happy when i always have his shoulder to lean on" tapi juga perlu diinget tantangan dan tanggung jawabnya. Dan yang paling penting, harus siap atas itu semua.
Ada yang pernah bilang juga, nggak ada satu tolok ukur tertentu untuk menilai kesiapan seseorang dalam memulai marriage life. Bisa jadi pikiran-pikiran seperti ini adalah salah satu dari bagian overthinking saya.
Kalau menurut kamu gimana? Cerita dong di comment box..




